Thohir Yasin; Mendobrak Paradigma Kekinian Tentang Masjid
Langkah kaki mulai terdengar ramai. Langit masih lazuardi dengan merah jingga yang mempesona. Burung Dara berterbangan menjadikan suasana teras langit makin sahdu. Angin berhembus pelan memecah peluh, merangsak memasuki celah-celah jendela yang belum sempat ditutup. Dedauan bernyanyi lembut menjumpai tanah yang jatuh dari pepohonan. Senandung Sholawat terdengar lirih di awang-awang, pertanda sebentar lagi akan datang waktu Magrib. Anak-anak dengan rambut basah yang belum sempat dikeringkat berlari kencang kearah Masjid.
Sungguh aku selalu suka suasana seperti itu. Tenang tak ada hingar-bingar, yang ada hanya kebahagiaan.
Kini suasana itu berangsur hilang ditelan zaman. Masjid yang dulunya menjadi tempat paling asik, tempat pusat informasi. Tukang Ojek bercertita tentang harga BBM, guru yang cerita tentang gaji honorer yang masih memperihatinkan, petani bercerita gagal panen, dan tentu masih banyak elemen lainya. Sekarang berubah, orang-orang ke masjid membawa suasana tegang.
Perubahan suasana ini terjadi berbarengan dengan implikasi peranan masjid yang tidak lagi mampu menghadirkan kenyamanan spritual dalam makna yang luas. Rukmana DW (2002) mengistilahkan fenomena tersebut sebagai akibat penyempitan fungsi masjid. Masjid yang dulunya menjadi tempat yang merepresentasikan seluruh aktifitas umat, masjid menjadi indikator kesejahteraan lahir dan batin, dan masjid dianggap memiliki peranan strategis sebagai pusat pembinaan, perlindungan, pemberdayaan, dan mempersatukan dalam mewujudkan umat yang berkualitas, moderen dan toleran. Kini tidak ditemukan kembali.
Artinya tidak bisa dipungkiri kembali, sekarang eksistensi masjid memiliki definisi makin sempit, hanya sebagai tempat aktifitas sholat yang ritmenya masih kalah jauh dibandingkan ruang publik yang menyediakan berbagai ruang untuk kebutuhan umat. Disamping itu, maraknya pembangunan masjid sering kali tidak dibarengi dengan mutu pemberdayaan, sehingga masjid terkesan tidak dapat memberikan manfaat sosial bagi masyarakat yang berefek pada dis-orientasi umat; antara datang ke masjid dengan suasana tegang atau tidak datang ke masjid untung ketenanangan mental maupun fisik.
Lalu apa yang perlu dilakukan untuk menghentikan kekeliruan peranan masjid saat ini? Dalam studi tentang Revitalisasi Peranan Masjid Di Era Modern yang di tulis oleh Nurul Jannah dalam menyelesaikan Program Magister (S2), menawarkan solusi dengan cara membongkar normativitas akan masjid dalam historisitas faktual seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Normativitas ini kemudian dijelaskan maknannya dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad, diterangkan bahwa kedudukan masjid tidak hanya sebagai tempat menumbuhkan keshalehan individual. Tetapi lebih dari itu, masjid dijadikan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai lembaga penumbuhkembangan keshalehan sosial dalam rangka menciptakan masyarakat religion-politik. Pada masa itu, masjid sepenuhnya berperan sebagai lembaga rekayasa sosial; sebagai pusat dakwah, pusat ibadah, (mahdhah maupun ghairu mahdhah), pusat kegiatan umat, pusat pendidikan dan pembinaan umat, pusat pemerintahan, pusat komando militer, pusat informasi, pusat konsultasi, pusat rehabilitasi mental, pusat zikir, dan masih banyak lagi yang lain. Dari masjid-lah rasullah membangun dunia.
Menghadirkan masjid sebagai yang difungsikan oleh Rasuluilah sudah semestinya kembali digaukan, terlebih dengan kompleksitas permasalahan sosial yang muncul seperti badai hujan yang tiada henti. Masjid harus hadir sebagai ruang publik pertama yang bisa menjadi surga kecil untuk umat. Surga yang penulis maksudkan adalah sebagai ruang untuk bisa menyelsaikan kompleksitas permasalah yang sedang banyak memeluk masyarakat. Misalnya dalam sektor ekonomi, masjid harus hadir memberikan solusi untuk pendapatan masyarakat. Pendidikan, masjid harus mampu menjadi tempat murajaah dan bertukar persepektif, begitupun dalam permasalahan-permasalahan lain.
Fenomena ini terjadi pada beberapa masjid di Indonesia, yang mana masjid tidak lagi dirasakan kehadirannya oleh masyarakat. Bahkan masjid tidak lagi difungsikan sebagai lembaga sosial yang bertujuan mempererat silaturahmi dengan menyalurkan zakat oleh masjid. Peran dakwah, politik, ekonomi, sosial dan kesehatan yang sudah mulai menghilang dari masjid. Menghilangnya peran dan fungsi tersebut disebabkan minimnya pengetahuan sumber daya manusia (ta’mir) masjid tentang peran dan fungsi masjid serta dana masjid yang tidak mencukupi untuk pengadaan aktifitas-aktifitas sosial masjid.
Sejauh ini, ada juga beberapa masjid yang menjalankan peran ibadah, pendidikan, dan ekonomi masjid, walaupun peran dan fungsi yang digarap belum maksimal dijalankan. Salah satunya masjid yang ada di Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin. Paham tentang kompleksitas peranan masjid dalam kemajuan umat, Thohir Yasin, mulai berani memfungsikan masjid sebagai tempat central terjadinya kegiatan pendidikan ataupun kegiatan sosial-ekonomi lainnya. Dalam aspek pendidikan, masjid dikelola sebagai satu elemen penting dalam menompang berjalannya proses belajar-mengajar. Bahkan tidak lama ini, sedang dibangun kembali masjid yang secara desain dan fungsi diorbitkan untuk menumbu-kembangankan segala kegiatan santri maupun masyarakat secara umum untuk memanfaatkan masjid sebagai tempat yang bisa berfungsi secara kompleks.
Dobrakan semacam ini tentu menjadi langkah baik untuk mengembalikan citra masjid. Thohir Yasin terus berupaya memfungsikan masjid sebagai satu kompenen yang tidak bisa dilepaskan untuk perkembangan dan kemajuan umat. Dalam catatan penulis ada beberapa peranan dan fungsi masjid yang sudah diaktifkan oleh Thohir Yasin. Pertama tempat ibadah dan dakwah, artinya masjid yang ada di Thohir Yasin telah melakukan berbagai aktivitas ibadah rutin seperti shalat fardhu, shalat sunnah, shalat hari raya idul fitri dan idul adha, pengajian-pengajian rutin, tadarusan, kajian-kajian ilmu, bimbingan manasik haji dan umrah, pemotongan hewan qurban, serta penyelenggaraan ibadah lainnya yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan keshalehan individu dan sosial.
Kedua pendidikan, selaian melakukan rutinitas belajar-mengajar di dalam masjid, tetapi juga memberikan ruang masjid untuk melakukan aktifitas ekskul sekolah seperti tilawatul qur’an. Memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar bersama setiap subuh, dan menjadikan masjid sebagai ruang sentral ketika mengadakan kegiatan yang berbau akademis, seminar ataupun talk show.
Ketiga peranan sosial. Peranan sosial yang penulis amati adalah adanya kegiatan ukhuwah islamiah antara oarang tua wali dengan guru atauoun dengan masyarakat. artinya disini terjadi satu kegiatan yang membangun bentuk solidaritas untuk menghentikan ataupun membendung berbagai konflik sosial yang masif terjadi di tengah masyarakat kita. Fungsi sosial yang ditekankan oleh Thohir Yasin tercermin tegas dalam slogan pondok “Tidak Kemana-mana Tapi Ada Dimana-mana” secara implisit penulis tafsirkan sebagai gerakan untuk merangkul semua elemen sehingga tidak menentukan keberpihakan melainkan sebagai penegah dalam situasi sosial yang pelik.
Walaupun demikian, tentu Thohir Yasin tidak menjadi satu kesempurnaan yang mutlak, tetapi masih ada hal yang terus diperbaiki. Misalnya dalam aspek ekonomi. Thohir Yasin masih mencari formula yang tepat untuk menyusun bagaimana memanfaatkan masjid sebagai tempat yang mengerakan kegiatan ekonomi umat yang sesuai dengan ajaran agama islam. Dan peranan baik lainnya tentulah perlu dipikirkan untuk memajukan perkembagan masjid yang ada di Thohir Yasin.
Jika sudah seperti itu, maka tidak perlu diragukan kembali bahwa peranan Thohir Yasin sebagai salah satu lembaga yang melakukan gerakan menjadikan masjid sebagai ruang untuk menata sosial ditengah pergeseran peran masjid. Masjid sekarang seperti yang sudah diterangkan diatas menjadi tempat yang disakralkan sampai orang-orang sungkan untuk berkunjung, apalagi sampai berkeluh kesah. (MD)